Peringatan Isra Mi'raj 1446 Hijriah

Apel Pagi sebelum acara Isra Miraj

Pagi itu suasana begitu cerah, senyuman manis tersungging pada bibir mungil para siswa. Langit biru yang memancarkan pesona elegan, terhias guratan awan tipis merona. Gamis-gamis itu berkibar apik dalam barisan syahdu, berpadu dengan koko santri yang membuat mata enggan memejam.


Shollu 'alan Nabi Muhammad... Alunan musik rebana mendayu, merdu... Seolah mampu menyihir sirnakan gundah yang mengusik kalbu. Satu dua lagu dilantunkan, kompak...menyebar Semerbak dalam bumi al uswah.

Indah dalam syair, terpuji dalam budi pekerti... teduh dikumandangkan. Semua khusyuk, berdiri dengan pujian tuk Baginda, seolah beliau hadir dalam barisan cinta.



"Adakah yang tahu, apa arti isro mi'raj"? begitu tanya Ustadzah Evi dalam pembuka taujihnya.

Beliau menjelaskan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami oleh anak-anak, sehingga mereka tidak mudah bosan. Sesekali beliau menggunakan candaan untuk mencairkan suasana, "ubur-ubur ikan lele, ojo rame ae Le"

Ustadzah Evi juga menjelaskan bagaimana cara menerapkan peristiwa isro mi'raj dalam kehidupan sehari-hari. Tentang semangat berjuang Rasulullah yang tiada batas, tentang tawakkal beliau kepada Rabbnya, hingga cara beliau menghadapi para Kafir Quraisy yang selalu mengancam membunuh Rasulullah saat itu.


"Wahai Rasulullah, jika engkau mengizinkan, akan kutimpakan gunung Uhud kepada kafir Quraisy" Begitu dawuh Malaikat Jibril karena sangat marah terhadap orang-orang kafir. Tetapi sekali lagi, Insan paling sempurna dalam segala hal ini tidak mengizinkan usul Malaikat Jibril. Istimewa bukan? Sangat sabar bukan? Justru beliau memohonkan hidayah untuk mereka.


Satu hal lagi yang membuat moment taujih tidak membosankan, ustadzah Evi memberikan pertanyaan kepada anak-anak, siapa saja yang bisa menjawab, maka dipersilahkan maju ke depan untuk mendapatkan cinderamata dari beliau. Menarik bukan?

Rangkaian acara sudah terlaksana hampir sempurna, do'a sebagai penghujung ceremonial pun dilangitkan dengan dipimpin Ustad Agus. Khusyu'.. Memuji keagungan Dzat maha Rahman, Mengadukan segala pinta yang ingin sekali dikabulkan.

Aamiin ya Rabbal alamin...



Mentari semakin memancarkan sinarnya, seolah menyingsing tepat di atas pohon kelapa. Tapi tidak memudarkan semangat hadirin untuk melangkah ke agenda berikutnya. Makan bersama ala Rasulullah dengan bekal dari rumah masing-masing.

Banyak sekali pelajaran dalam pola makan ala Rasulullah. Mulai dari mencuci tangan, menyuap nasi dengan tangan kanan, makan tidak dengan berdiri. Dan yang paling penting lagi adalah bagaimana tetap mensyukuri makanan yang ada pada saat itu. Kita tahu bahwa Rasulullah tidak pernah mencaci makanan, sekalipun makanan itu terkadang keasinan.


Sembari menikmati moment makan bersama ala Rasulullah, para hadirin disajikan penampilan delegasi PORSENI. Sorak sorai pun menghiasi lapangan al uswah. Semua tampil memukau, menyihir setiap mata tak berkedip memandang. 


0 Komentar